Tuesday, April 9, 2019

Tentang Masjid Jogokariyan, Masjid Kampung di Yogya yang Mendunia

Tentang Masjid Jogokariyan, Masjid Kampung di Yogya yang Mendunia



Tentang Masjid Jogokariyan, Masjid Kampung di Yogya yang Mendunia

Masjid Jogokariyan Yogyakarta menjadi perbincangan hangat menyusul aksi pelemparan batu oleh massa konvoi kemarin. Di sisi lain, masjid kampung ini memiliki sejarah panjang dan juga dikenal dunia.

Masjid ini dibangun pada tahun 1966 dan mulai digunakan pada 1967. Nama masjid diambil dari nama kampung di mana masjid itu berdiri, Kampung Jogokariyan. Tepatnya ada di Jalan Jogokariyan 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Hal ini mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad SAW yakni memberi nama masjid sesuai dengan di mana masjid itu berada.

"Rasulullah berdakwah di Quba, namanya Masjid Quba, beliau berdakwah di Bani Salamah, masjidnya juga namanya Bani Salamah sesuai dengan nama tempatnya," jelas salah seorang pengurus masjid di bidang kesekretariatan Masjid Jogokariyan, Enggar Haryo Panggalih saat ditemui detikcom pada 2015 silam.

Pembangunan masjid ini berawal dari wakaf seorang pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta. Awalnya masjid terletak di sebelah selatan kampung Jokogkariyan, namun seiring berjalannya waktu, takmir masjid pertama yakni Ustadz Amin Said mengusulkan untuk memindahkan masjid ke tengah kampung.

Hingga akhirnya sampai saat ini dengan segala perkembangannya Masjid Jogokariyan berdiri di sudut perempatan kampung.

Pembangunannya bertahap. Awalnya masjid ini hanya terdiri dari sebuah bangunan inti saja. Baru kemudian berkembang, setelah tahun 2006, pengurus masjid mendirikan Islamic Center di sisi timur bangunan utama.

Pada 2006, ada sebuah rumah warga di sebelah masjid yang runtuh. Dia menawarkan pihak masjid untuk membeli lahan tersebut. Hingga luas kompleks masjid bertambah. 

Dari penawaran itu kemudian pihak masjid membuka kesempatan infaq bagi siapapun yang berkenan. Di Islamic Center Masjid Jogokariyan inilah segala kegiatan pelayanan jamaah banyak dilakukan. 

Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Ada 28 divisi yang bekerja. Di antaranya biro klinik, biro kaut, dan komite aksi untuk umat.

Banyaknya kegiatan yang berjalan di masjid Jogokariyan inilah yang membuat masjid ini tak pernah sepi. Meski di luar Bulan Ramadan, jamaah salatnya selalu ramai. Hal ini menarik perhatian masyarakat muslim tak hanya di luar Yogyakarta tapi juga luar negeri. Masjid juga memiliki website sederhana.

"Banyak yang studi banding. Beberapa tahun lalu, parlemen Eropa ke sini. Pernah juga ulama Palestina berkunjung," jelas Galih.

"Mereka juga bertanya kok bisa masjid kampung, karena kelas kami kelas kampung, bukan masjid agung, masjid kota tapi kok bisa mendunia," imbuhnya.

Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Galih mengatakan rahasianya ada pada sebuah prinsip yang dipegang para pengurus masjid dan masyarakat sekitar. Pengurus masjid bukan sekedar mengurus masjid tapi juga melayani jamaah.

"Kita punya klinik, ada divisi-divisi yang langsung ke masyarakat. Kotak infaq yang besar dan lubangnya juga besar, kalau ada yang mau ngasih Rp 5 juta juga masuk," tutur Galih.

Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Galih menilai masyarakat melihat bagaimana uang dari infaq berputar untuk kepentingan jamaah. Dan menurutnya, sudah seharusnya seperti itu. Uang perolehan infaq seharusnya segera digunakan untuk keperluan umat.

"Bukan diendapkan, tapi selalu diputar. Selalu ada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk jamaah," tuturnya. 

Kembali ke insiden yang terjadi di kompleks masjid ini, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Fanni Rahman meminta penggerak aksi lempar batu meminta maaf. 

"Tokohnya (sudah) mewakili mereka minta maaf. Kedua, pelaku atau penggeraknya itu juga harus minta maaf, tidak harus ke masjid silakan (meminta maaf) di tempat netral," ujar Fanni saat ditemui wartawan di Kampung Jogokariyan, Senin (28/1/2019).

Fanni menjelaskan untuk menyelesaikan perkara ini, aparat Kecamatan, Polsek, dan Koramil Mantrijeron berupaya memediasi perkara ini. Hasilnya disepakati agar tokoh dan penggerak pelemparan batu ke arah Masjid Jogokariyan meminta maaf.

"Kesepakatan dua hal, kesepakatan damai. Karena juga ini isu sensitif berbeda dengan kejadian yang lain. Kami juga enggak mau dibawa ke urusan politik. Karena pelakunya juga teman-teman sudah tahu orang-orangnya itu," tuturnya.

"Biar clear, karena saya butuh untuk itu. Karena apa? Untuk meredam situasi. Sesepuhnya (tokoh simpatisan parpol) sudah minta maaf. Tapi pelaku penggeraknya (belum), satu orang saja harus minta maaf," pungkas dia.





Beli Karpet Masjid? Segera hubungi kami di 081226459781
atau kunjungi website kami juragankarpetmasjid.com

Monday, April 1, 2019

Menyingkap Keunikan Masjid Jogokariyan Yogyakarta

Menyingkap Keunikan Masjid Jogokariyan Yogyakarta


Masjid Jogokariyan Yogyakarta kok bisa ngehits ya, begitu pikiran yang ada dalam benak saya.  Sehingga bersama para sohib berniat untuk bisa mengunjungi masjid ini.  Datang pas dini hari dibuat kagum oleh pandangan pertama.  Bukan..bukan karena bentuk fisiknya, karena bangunan masjid ini sih biasa aja tidak terlalu menonjol.  Tapi karena keramaian di dini hari yang jarang ditemui di masjid lain atau tempat lain.
Tiba di Masjid Jogokariyan Yogyakarta dini hari, bersama rombongan para shohib tercinta yang luar biasa baiknya.  Saling bantu, saling support selama perjalanan membuat saya semakin merasa sayang pada anggota grup Rihlah Asyik ini.  Sepanjang perjalanan dari Stasiun Kereta Api mengendarai taksi online, jalanan sudah demikian sepi.
Berbeda dengan jalanan yang demikian sepi, meski masih dini hari, suasana Masjid Jogokariyan sudah demikian ramai.  Baik ramai oleh orang yang akan dan sedang melakukan sholat tahajud, juga oleh rombongan yang baru saja tiba di masjid ini.
Ternyata benar saja masjid ini begitu ngehits ya.. tempat lain masih sepi di sini sudah ramai.  Tiba disambut ramah oleh Mas-Mas yang sedang mengatur kendaraan, karena ada juga yang menggunakan bis, artinya ini rombongan dalam jumlah besar tentu saja.  Si Mas menunjukkan arah toilet dengan penuh keramahan, mengabarkan nanti ada kajian manajemen masjid,  wajah sholeh pun terpancar di wajahnya yang cerah.
Senang berada di sini, masjid yang terbuka, begitu welcome kepada setiap yang datang hingga tidak merasa canggung sebagai tamu.  Sebagai pasukan yang datang backpackeran berniat mandi di sini hehe… sempat canggung juga karena ini baru pertama kali harus mandi di masjid.  Sempat bingung karena kami bertujuh plus tiga orang anak akan antri mandi di sini, tentu akan mengganggu orang lain.


Alhamdulillah akhirnya kami menemukan ‘kamar mandi tersembunyi’ di bagian tempat sholat akhwat, hingga kami bisa bebas mandi seperti di rumah sendiri.  Dua kamar mandi itu bisa kami booking dengan aman untuk mandi dan berganti pakaian.
Saat adzan berkumandang, masjid sudah dipenuhi oleh jamaah yang akan melakukan sholat shubuh berjamaah.  Bahkan hamparan tikar pun digelar di teras masjid karena jamaah melebihi kapasitas ruangan masjid.  Jadi teringat akan hadist yang mengatakan Islam akan kembali bangkit bila jamaah  sholat shubuhnya sudah berbondong-bondong menyamai jamaah sholat jum;at.  Ah sayang.. baru di beberapa tempat saja ini terjadi…
“Dan (dirikanlah pula solat subuh). Sesungguhnya solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS Al Isra: 78 ).
Setelah sholat shubuh ada kultum, kali ini kultum tentang jamaah haji yang siap diberangkatkan tahun ini oleh pemerintah Indonesia.  Tentang jumlah, kapasitas dan hal lain yang berkaitan dengan kuota haji.  Selepas kultum jamaah pun banyak yang bubar, tetapi ada juga yang mengikuti kajian selanjutnya yaitu manajemen masjid.  Di sudut lain ada sekelompok orang yang sedang belajar mengkaji satu surat yang dibimbing oleh seorang ustadz.
Saya dan beberapa sahabat di perjalanan memilih mendengarkan kajian manajemen masjid, sahabat yang lain ada yang memilih tilawah, sementara anak-anak batita tertidur dengan lelapnya.  Pun demikian Maghfi si bungsu anakku yang bertugas sebagai fotografer Grup Rihlah Asyik ini  setelah sholat shubuh, Maghfi langsung tertidur dalam posisi sujud dengan lelapnya.  Begitulah masjid memang tempat yang nyaman juga untuk tidur ..hihi..




Jamaah Sholat Shubuh yg selalu memadati masjid
Ternyata yang mengikuti kajian berasal dari berbagai daerah ada yang dari Solo, Tegal, Bekasi dan tempat yang lainnya.  Luar biasa, tempat ini menjadi rujukan banyak masjid yang ingin memperbaiki manajemen masjidnya.  Jadi penasaran apa dong, kelebihan masjid ini karena kalau sepintas sih terutama dari kerapihan manajemen sandal saya lebih memilih Daarut Tauhid Bandung sebagai masjid dengan pengelolaan sepatu atau sandal yang rapih.
KEUNIKAN MASJID JOGOKARIYAN YOGYAKARTA.
MEMILIKI DATABASE WARGA
Luaaar Biasa…. Masjid Jogokariyan Yogyakarta ternyata memiliki data base warganya.  Setiap tahun Masjid Jogokariyan mempunyai program sensus masjid yang bertujuan mendata jamahnya sebagai informasi awal kegiatan.
Data Base dan Peta Da’wah Masjid Jogokariyan Yogyakarta tak hanya mencakup Nama, KK, Pendapatan, Pendidikan dan lain-lain, tetapi juga sampai kepada :
Dari Data Base diatas kita bisa tahu bahwa dari 1030 KK (4000-an penduduk sekitar masjid) yg belum sholat tahun 2010 ada 17 orang. Lalu bila dibandingkan dengan data tahun 2000 yang belum sholat 127 orang.
Data jamaah ini juga digunakan untuk membuat gerakan sholat shubuh berjamaah.
Undangan itu dilengkapi hadis-hadis keutamaan Sholat Shubuh… hasilnya…??  Hasilnya memang luar biasa saya menyaksikan sendiri bagaimana jamah sholat shubuh menyamai jamaah sholat jum’at.
SISTEM PENDANAAN MASJID JOGOKARIYAN YOGYAKARTA
Masjid Jogokariyan ternyata tidak membuka unit usaha karena khawatir menyakiti jamaah yang memiliki usaha serupa.  Tiap pekan Masjid Jogokariyan biasa menerima ratusan tamu, konsumsi untuk tamu diorderkan bergilir pada jamaah yang memiliki rumah makan.
SISTEM KEUANGAN YANG BERBEDA DENGAN MASJID YANG LAIN.
Jika masjid lain bangga mengumumkan saldo infak sekian juta rupiah, justru Masjid Jogokariyan berupaya agar saldo harus selalu nol rupiah.  Prinsipnya infak ditunggu pahalanya untuk menjadi amal sholeh bukan untuk disimpan di rekening Bank.
Pengumuman infak jutaan rupiah akan sangat menyakitkan jika tetangga masjid ada yang tidak bisa ke rumah sakit atau tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya.
Bagi Masjid Jogokariyan masjid menyakiti jamaah adalah tragedi dakwah.
Masjida Jogokariyan menginisasi Gerakan Jamah Mandiri,  yaitu dengan menghitung biaya masing-masing jamaah tiap sholatnya. Setelah dihitung disosialisasikan bahwa bila jamaah berinfak setiap pekannya sekian rupiah maka ia termasuk Jamaah Mandiri, dan bila kurang dari segitu maka ia termasuk katagori jamaah disubsidi. Bila lebih maka ia termasuk jamaah pensubsidi.  Keren ya. Kemudian sosialisasi ditutup dengan kalimat


SARANA DAN PRASARANA MASJID
Ternyata wifi di Masjid Jogokariyan sudah semenjak tahun 2004 dan itu gratis, sehingga jamaah baik dewasa maupun anak-anak tidak perlu repot pergi ke warnet yang memungkinkan membuka situs yang bukan-bukan.
Masjid Jogokariyan juga menyediakan ruang olahraga atau bermain yang terdapat alat olahraga seperti tenis meja dan lain-lain, sehingga anak-anak atau remaja atau pemuda yang ingin bermain atau berolahraga di Jogokariyan bisa kerasan berada si masjid dan tentu saja waktu olah raga mereka jadi tidak bertabrakan dengan waktu sholat.
KEUNIKAN LAIN MASJID JOGOKARIYAN YOGYAKARTA
Tiap kali renovasi Masjid. Takmir Masjid berupaya tak membebani jamaah dengan Proposal, sebab Takmir hanya pasang spanduk : “Mohon maaf ibadah Anda terganggu, Masjid Jogokariyan sedang kami renovasi.” Nomor rekening tertera di bawahnya.
Sejak tahun 2005, Masjid Jogokariyan sudah menjalankan program Universal Conference Insurance dimana seluruh Jamaah Masjid bisa berobat di Rumah Sakit atau klinik manapun secara Gratis-tis dengan membawa Kartu Sehat Masjid Jogokariyan.
Dan kami juga biasa memberi hibah Umrah bagi jamaah yang betul-betul rutin Jamaah Sholat Shubuh di Masjid Jogokariyan.
Satu kisah lagi untuk menunjukkan pentingnya data dan dokumentasi yakni Masjid Jogokariyan punya foto pembangunannya di tahun 1967, gambarnya seorang Bapak sepuh berpeci hitam, berbaju batik, dan sarungan sedang mengawasi para tukang pengaduk semen untuk Masjid Jogokariyan.
Di tahun 2002/2003 Masjid Jogokariyan direnovasi besar-besaran kemudian foto itu dibawa kepada putra si kakek dalam gambar tersebut. Putranya seorang juragan kayu.
Alhamdulillah.. foto tua tahun 1967 itu membuat yang bersangkutan nyumbang 1 Miliar Rupiah dan mau menjadi Ketua Tim Pembangunan Masjid Jogokariyan sampai sekarang…Ajib…!!
Sekitar pukul 08,00 pagi suasana halaman masjid sudah dipenuhi kegiatan lomba


Beli Karpet Masjid? Segera hubungi kami di 081226459781
atau kunjungi website kami juragankarpetmasjid.com